Sejarah Desa

Sejarah Desa Cilongok

Dari beberapa sumber yang kami peroleh, ada beberapa pendapat tentang asal-usul  nama Desa Cilongok, yaitu :

  1. Menurut bapak Sunaryo, selaku sesepuh Desa Cilongok. Menceritakan bahwa dahulu kala ada seorang kakek yang bernama kaki Cilongok.
  2. Menurut Mas Dedi, selaku ketua karang taruna Desa Cilongok. Menceritakan bahwa menurut legenda yang ada dimasyarakat Cilongok berasal dari kata Ci yang artinya air dan Longok yang artinya muncul. Jadi Cilongok itu bermakna mata air yang muncul dari tanah.

Setelah kita mencari data lebih lanjut akhirnya kita menemukan keturunan dari Bapak  Nurya Sentika selaku Lurah pertama di desa Cilongok yang bernama Bapak Risun.

Menurut cerita dari Beliau, Desa Cilongok merupakan perbatasan sebelah timur kerajaan Pajajaran. Dikarenakan tidak adanya penjaga perbatasan sebelah timur kerajaan, maka sang raja membuat sayembara “Barang siapa yang paling kuat maka dia yang akan menjadi penjaga perbatasan”. Terdengarlah sayembara tersebut oleh tiga bersaudara yaitu Ki Suramerta, Ki Candrageni, dan Ki Jambe Wangi. Ki Suramerta dan Ki Candrageni sangat berambisi untuk memenangkan sayembara tersebut, sedangkan Ki Jambe Wangi tidak terlalu berambisi. Pertarungan antar ketiganya pun tidak bisa terelakan lagi. Mereka bertarung bertarung dibawah makam Ki Suramerta (sekarang). Disana terjadi ledakan hebat membentuk kedung yang mengeluarkan air. Masyarakat yang terkejut dengan ledakan tersebut menengok  ke sumber ledakan. Kemudian tempat tersebut dinamakan Cilongok. Kata Cilongok terdiri dari dua kata, yaitu kata Ci dan Longok. Ci berasal dari bahasa Sunda yang berarti air, sedangkan Longok berasal dari bahasa Jawa yang berarti menengok. Akhirnya sayembara tersebut dimenangkan oleh Ki Jambe Wangi yang kemudian dijuluki Ki Cilongok, sesuai dengan tempat pertarungan tersebut.

Adapun daftar Lurah yang kami dapatkan adalah sebagai berikut :

  1. Bapak Nurya Sentika, yang bertempat di cilongok
  2. Bapak H. Abdur Rahim, yang bertempat di petir
  3. Bapak Karwan, yang bertempat di Cilongok
  4. Bapak Parta, yang bertempat di Kali manggis
  5. Bapak Nur Samad, yang bertempat tinggal di Kali manggis. Beliau menjabat sebagai lurah sekitar tahun 1945. Pembangunan yang dilakukan dalam kepemimpinannya salah satunya adalah pembangunan Balai Desa Cilongok dan MI Ma’arif NU Cilongok.
  6. Bapak Sukemi, yang bertempat tinggal di kali manggis. Beliau menjabat sebagai lurah sekitar tahun 1972, masa jabatannya hanya 2 tahun.
  7. Bapak Ahmad Dakirin, yang bertempat tinggal di Kauman. Beliau menjabat sebagai lurah  tahun 1974. Beliau menjabat selama 2 periode yang 1 periodenya selama 8 tahun, jadi beliau menjabat selama 16 tahun. Beliau pun melanjutkan program kerja yang belum terlaksana dari lurah sebelumnya, diantaranya membangun MI, dan 2 SD yaitu SD N 2 Cilongok dan SD N 3 Cilongok yang sampai sekarang masih ada. Bapak Dakirin mendapatkan gaji berupa Bengkok 6,5 Ha untuk gaji pamong desa yang dimanfaatkan untuk kebun tebu. Penghasilan utama masyarakat pada masa jabatannya adalah petani gula kelapa, ketela, dan padi.
  8. Bapak Sukirman, yang bertempat tinggal di kauman. Beliau menjabat sebagai lurah sekitar tahun 1990an.
  9. Bapak Tasun, yang bertempat tinggal di bentala. Beliau menjabat sebagai lurah sekitar tahun 2000an. Pada masa pemerintahannya sudah bergulir bantuan dari pemerintah untuk subsidi desa dan lain-lain. Infrastruktur bangunan pun maju.
  10. Bapak Khana Nurrohman, yang bertempat tinggal di kali manggis. Beliau baru menjabat selama 8 bulan sebagai lurah.

Di Desa Cilongok ada 12 grumbul/dukuh yaitu, utara pasar, kali manggis (selatan pasar), kampung baru, kauman, petir barat, petir timur, bentala, dukuh klewih, glempang, dalawangi, cilongok, bedolan. Di Desa Cilongok terdiri dari 43 RT dan 6 RW.

Pendidikan di Desa Cilongok sudah ada sejak jaman Belanda, hal ini dibuktikan dengan dibangunnya SD pertama di Desa Cilongok yaitu SD N 1 Cilongok sekitar tahun 1933. Pada tahun itu pula pasar dibangun. Dan sekarang terdapat 3 TK, 3 SD, 1 MI, 1 MTS, dan 1 SMK.