Pemilihan kepala desa (Pilkades) secara serentak di  257 desa di Kabupaten Banyumas, Jawa Tengah, berlangsung aman dan lancar.  Pilkades yang diikuti  785 calon kepala desa telah digelar Rabu, 23 Juli 2019 mulai pukul 07.00 dan selesai hingga 15.00 WIB.

Sebanyak delapan desa yang semula diindikasikan rawan pun menjalani proses pilkades dengan aman. Kedelapannya adalah Desa Banjarsariwetan Kecamatan Sumbang, Desa Panembangan dan Desa Gununglurah Kecamatan Cilongok, Desa Tipar Kidul Kecamatan Ajibarang, Desa Pajerukan dan Desa Kaliori Kecamatan Kalibagor, Desa Karangtengah Kecamatan Baturraden, serta Desa Kedungurang Kecamatan Gumelar.

Hingga berakhirnya pemungutan suara yang dilanjutkan dengan penghitungan dan pengumuman hasilnya,  belum ada laporan peristiwa yang menganggu keamanan. Meski, ada beberapa desa yang bakal calonnya mencapai lebih dari empat orang. Misalnya, Desa Pageraji Kecamatan Cilongok yang bakal calonnya ada lima orang dengan jumlah DPT mencapai 8.320 orang.

Pesta demokrasi yang berlangsung itu bahkan diwarnai hiburan di beberapa desa. Misalnya di Desa Banteran Kecamatan Sumbang, warga pemilih patungan untuk membeli doorprize berupa satu sepeda motor, sembilan ekor kambing, dan dua sepeda.”Kami patungan untuk beli doorprize agar tingkat partipasi pemilih tinggi,” kata Narimo, salah satu panitia pilkades di Desa Banteran.

Beberapa desa memiliki calon yang berhubungan keluarga

Dari 785 orang calon kades di 257 desa yang melaksanakan gelaran pilkades, lima persen di antaranya ternyata masih memiliki hubungan keluarga. Ada yang memiliki hubungan suami-istri, bapak-anak, ataupun kerabat dekat seperti paman-keponakan.

Para calon yang memiliki hubungan kekerabatan itu umumnya salah satunya adalah petahana dan merupakan calon tunggal. Karena itu, agar pilkades bisa digelar, maka istri, anak, paman, atau keponakan yang maju untuk menjadi rivalnya.

Seperti di Desa Banteran, menurut Narimo, pilkades diikuti pasangan suami-istri, yakni Edi Suhedi dan Supriyti. “Edi Suhedi adalah petahana, sudah  dua kali menjabat. Tahun ini maju lagi awalnya sebagai calon tunggal, masyarakat tidak ada yang mau bersaing melawannya. Akhirnya istrinya yang maju,” kata Narimo.

Di Desa Pandak Kecamatan Baturaden, pilkades diikuti bapak-anak, yakni Rasito yang merupakan calon petahana melawan anaknya, Aditya Hendro Prasetyo. Di Desa Purbadana Kecamatan Kembaran, calon pun merupakan pasangan suami-istri, yaitu Warsito yang merupakan calon kades petahana dan istriny, Sofiyati. Karena para calon memiliki kekerabatan, pilkades pun terkesan adem-ayem.

Kepala Bagian Tata Pemerintahan Setda Banyumas, Djoko Setiono, mengatakan, tidak ada pelarangan adanya calon yang memiliki hubungan darah atau perkawinan. Pelaksanaan pilkades diatur dalam Peraturan Bupati Banyumas Nomor 64 Tahun 2017 dan hanya menyatakan bahwa pilkades bisa terselenggara jika diikuti minimal dua orang dan maksimal lima orang.

“Dalam pilkades memang harus ada ‘musuh’-nya, tidak seperti pilkades sebelumnya di mana ada calon yang melawan kotak kosong. Ini semua akan kembali ke masyarakat karena semua pilihan rakyat,” imbuhnya.

 

Sumber : pikiran-rakyat.com